Tampilkan postingan dengan label khazanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label khazanah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Maret 2014

Hidangan yang Sama

http://islam-channel.blogspot.com/2014/02/merajut-hidup-bahagia.html

ISLAM CHANNEL -- Dalam buku Kisah-Kisah Unik yang ditulis oleh Fahrurrazi Meng (2004), menyebutkan Lukman al-Hakim yang namanya diabadikan menjadi nama Surat dalam al-Qur’an (QS:31) adalah seorang budak Ethopia berkulit hitam yang tukang kayu.

Suatu kali, sang majikan menyuruhnya menyembelih seekor domba dan berpesan agar bagian yang paling lezat dihidangkan kepadanya. Lalu, Lukman menyajikan sepotong hati dan lidah.

Selang beberapa waktu kemudian, sang majikan kembali meminta disembelihkan seekor domba lagi dan menyajikan bagian yang tak enak untuknya. Lalu, Lukman menghidangkan hal yang sama yakni sekerat hati dan lidah.

Sang majikan penasaran dan bertanya, ”Hai Lukman, mengapa engkau menyajikan hidangan yang sama? Ketika aku meminta bagian yang paling enak dan yang tidak enak, engkau menghidangkan hati dan lidah.

Lukman menjawab dengan bijaksana, ”Sebab tidak ada yang lebih baik daripada hati dan lidah bilamana ia baik, dan tidak ada yang lebih tidak enak daripada hati dan lidah bilamana ia buruk”.

Hati dan lidah memiliki makna fisik (lahiriyah) dan metafisik (batiniyah). Secara fisik, hati (kalbu) adalah hati atau jantung yang menjadi sentral dalam jasmani manusia.

Secara metafisik, hati adalah wadah dan pusat aktifitas diri dan menampung segala bentuk sikap, perbuatan dan pikiran manusia.

Sementara, lidah secara fisik adalah organ yang membuat manusia bisa berbicara. Tapi secara metafisik, lidah adalah ucapan yang keluar dari mulut manusia.

Sungguh, hati dan lisan tidak bisa dipisahkan. Hati adalah wadah yang menampung segala macam tindak tanduk manusia, sementara lisan adalah corong (saluran) untuk mengungkapkan isi hati manusia.

Hati laksana mata air. Jika mata airnya bening, maka yang mengalir juga bening, bahkan bisa diminum tanpa dimasak dahulu. Tapi, bila mata air keruh, air yang mengalir pun keruh.

Ya Allah hiasilah hati kami dengan kesenangan ibadah, kemuliaan akhlak dan semangat beramal shaleh. Amiin.

Senin, 24 Februari 2014

Taman Surga

mengingat Allah

Assalamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu.

Sahabat sholehku yang di rahmati ALLAH, Rasulullah bersabda, “Tidak satu kaumpun yang duduk zikir kepada Allah, kecuali mereka akan dikelilingi Malaikat, akan diliputi rahmat Allah, akan beroleh ketenangan, dan akan disebut-sebut oleh Allah pada siapa-siapa yang berada disisi-Nya” (HR Muslim, Ahmad, Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Abi Syaibah & Baihaqi).

Nabi pergi mendapatkan satu lingkaran dari sahabat-sahabatnya, tanyanya "Mengapa kalian duduk disini?" Para sahabat menjawab, ‘Maksud kami duduk disini adalah untuk zikir pada Allah dan memuji-Nya atas petunjuk dan karunia yang telah diberikan-Nya pada kami nikmat agama Islam".

Sabda Nabi, "Demi Allah tak salah sekali! Kalian duduk hanyalah karena itu. Mereka berkata, "Demi Allah kami duduk karena itu dan saya tidaklah minta kalian bersumpah karena menaruh curiga pada kalian, tetapi sebetulnya Jibril telah datang dan menyampaikan bahwa Allah telah membanggakan kalian dihadapan MalaikatNya" (HR Muslim).

Demikian pula hadist dari Ibnu Umar, “Jika kalian lewat di taman-taman Surga, hendaklah kalian ikut bersimpuh di dalamnya! Tanya mereka, "Apakah itu taman-taman Surga ya Rasulullah? 

Nabi menjawab, "lingkaran-lingkaran zikir karena Allah dan para Malaikat mempunyai rombongan pengelana yang mencari-cari lingkaran zikir. Maka jika ketemu dengannya mereka akan duduk mengelilinginya”.

"Semoga Allah perkenankan kita duduk bersama di Taman SyurgaNya... Aamiin ya Robbal aalamiin".

Minggu, 23 Februari 2014

Manfaatkanlah Waktumu Sebaik Mungkin

manajemen waktu

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu..

Sahabatku yang merindukan ridho Allah dan Syurga-Nya. Masa, abad, waktu, tahun, bulan, pekan, hari, jam, menit, detik terus terjadi, terus berjalan.

Tidak ada satu makhluk pun yang mampu menghentikan berjalannya waktu.

“…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…” (QS Ali Imran: 140)

Peristiwa demi peristiwa tergilir dan terjadi dalam tiap waktu. Ada yang diatas ada yang di bawah. Ada yang di bawah lalu ke atas, ada yang di atas lalu ke bawah. Ada yang sehat ada yang sakit. Ada yang hidup ada pula yang mati. Semua terjadi dalam perjalanan waktu.

Sungguh, detik demi detik itu adalah waktu yang sangat mahal yang tidak akan bisa di tukar walaupun dengan kekayaan sebanyak apa pun. Manusia tidak akan bisa mengulang waktu walau sedetik yang sudah dia lalui.

Karena itu, di akhirat nanti, SubhanAllah, seluruh manusia pada menyesal dan minta dikembalikan ke muka bumi ini walau sedetik untuk bertaubat dan beramal shaleh.

Orang yang berbuat zalim berkata, “kembalikanlah kami ke muka bumi walau sedetik, niscaya kami akan menjadi orang shaleh.”

Orang yang tidak beriman berkata, “kembalikanlah kami ke muka bumi walau sedetik, niscaya kami akan menjadi orang yang beriman.”

Orang yang pelit berkata, “kembalikanlah kami ke muka bumi walau sedetik, niscaya kami akan menjadi orang yang dermawan.”

Detik demi detik sangat berharga.

Demi masa.

Demi detik.

Karena itu orang yang beriman sangat menghargai detik demi detik.

Hal-hal yang tidak bermanfaat akan dia tinggalkan demi menjaga detik demi detik yang berharga. Dan setiap waktu yang ALLAH berikan kepada kita, detik demi detik itu akan dimintakan pertanggungjawaban di hadapan ALLAH.

Karena itulah Ada ibadah seumur hidup, yaitu haji.

Ada ibadah tahunan seperti shalat Idul Fitri dan Idul Adha.

Ada ibadah bulanan, yaitu puasa setiap tanggal 13, 14, 15 di bulan hijriyah.

Ada ibadah mingguan yaitu shalat jum’at.

Ada ibadah harian yaitu shalat lima waktu.

Ada ibadah detik yaitu berdzikir.

Itulah denyut jantung orang-orang yang mengenal ALLAH.

Ya ALLAH, hidupkanlah hati hambamu ini dalam setiap denyut jantung agar senantiasa ingat kepada-MU.

SubhanAkallahumma wabihamdika, asyhadu alla ilaha illa Anta, astaghfiruka wa atubu ilaih.

Minggu, 01 Desember 2013

Proses, Bukan Hasil

kerja keras

ISLAM CHANNEL -- JANGAN pernah menyerah, kalimat ini tidak asing buat kita. Bahkan selalu menjadi motivasi untuk bangkit. Tapi pengejewantahan kalimat ini tidaklah semudah mengucapkannya.

Kita tahu cerita Ziad ibnu Thariq yang dengan sedikit pasukannya mampu mengalahkan pasukan Andalusia / Spanyol yang besar. Kekuatan minim yang secara matematis kalah tidak menyurutkan untuk bertempur.

Hati bertekad bulat untuk berjihad, tidak peduli kalah atau menang. Karena tujuannya adalah keridoan Allah SWT.

Dalam keseharian, kita berusaha mengais rezeki untuk keluarga. Kita sering lupa bahwa proseslah yang paling penting. Kita sering berfokus pada hasil, jadi ketika hasil yang kita harapkan tidak sesuai dengan keinginan kita, kita cenderung kecewa. Untung dan rugi yang selalu menjadi fokus perhatian.

“Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu” (Q.S. 9: 105).

Allah SWT melihat tiap detail kerja yang kita kerjakan. Hasil itu adalah milik Allah SWT. Kita sering lupa seberapa baik proses yang sudah kita lakukan? Proses yang baik merupakan sebuah tujuan meski hasilnya tidak sesuai keinginan kita. Sebab Allah Maha Tahu apa yang baik buat kita.

Tapi yang juga harus kita ingat, setelah proses yang kita jalani, jangan lantas pasrah begitu saja dengan hasil. Jika hasil yang ada sesuai dengan perencanaan kita, kita patut bersyukur. Tapi jika hasil tidak sebanding dengan proses, sebaiknya lah kita instrospeksi dahulu. Setelah itu baru kita serahkan hasilnya kepada Allah. [ ]

Kamis, 28 November 2013

Jadilah Pemenang

pemenang
ISLAM CHANNEL -- Tak perlu berkeluh kesah bila matahari tersungkur menyambut kegelapan. Karena sebentar lagi, engkau akan lihat bintang gemintang bertebaran dan bulan purnama menghangatkan penghuni bumi.

Ketahuilah, kegagalan bukanlah akhir perjalanan. Kegagalan adalah berita langit yang memberikan pelajaran paling berharga untuk menapaki jalan menuju sukses.

Tak perlu takut bila terjatuh. Justru merintihlah penuh rasa getir bila engkau enggan berdiri untuk bangkit. Ingatlah, Tersandung itu bukanlah jatuh!

Tak ada anak kecil berlari kencang kecuali mengalami jatuh bahkan terluka. Lihatlah  dengan penuh haru, betapa pepohonan di lereng–lereng gunung menyambut hembusan angin dengan wajah semringah.

Karena mereka tahu, hanya pepohonan yang diterjang angin badailah yang akan tumbuh kuat mencengkeram tanah dengan akar-akarnya semakin kokoh. Layang–layang naik menjulang karena ia menentang angin, bukan mengikutinya. 

Kapal yang bagus bukan untuk ditonton atau ditambatkan di pelabuhan, tetapi karena kemampuannya berlayar menerjang samudera di badai topan.

Allah berbisik di setiap nurani manusia yang tabah:  “Apakah kamu mengira, kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah siapa orang–orang yang bersungguh–sungguh di antaramu, dan belum nyata orang–orang yang sabar. “ ( 3 : 142 )

Setiap hari, muazin selalu menyeru dan mengetuk hati nurani dengan seruan hayya 'alal falah, ayo menuju keberuntungan dan kemenangan.

Tapi, renungkan dengan hati yang paling tajam, ternyata seruan hayya ‘alal falah pastilah didahului dengan seruan hayya ‘alas shalah.

Seakan–akan memberi isyarat tidaklah kemenangan akan diraih kecuali engkau bergerak, qiyam ruku dan sujud.

Meneteskan keringat, mengerahkan segala doa untuk merentangkan jembatan ikhtiar,  agar setiap hari kita akan masuk dalam rombongan kaum beruntung, para pemenang,  al Muflihuun!

Generasi penerima amanah langit, bukanlah manusia kardus yang rapuh tertimpa hujan. Jiwa para pemuda yang berjiwa futuwwah (ksatria) adalah para pemberani untuk menghadapi tantangan.

Karena hanya sang juara (the champ) yang siap menerima tantangan. Sedang para pecundang, tersingkir dari gelanggang dan dilupakan.

Di sini, di dalam dera dunia yang menderu debu, tidak ada tempat bagi manusia lemah yang terpuruk di balik selimut kemalasan. Di sini hanya ada tempat untuk mereka yang siap tarung menunjukkan taring dengan terang.

Maka, bila mau sejenak bercermin dari para pemenang kehidupan, selalu akan kita jumpai jiwa yang tabah menempuh cita–cita.

Jiwa para pemenang selalu bersuka cita, berdendang riang menghadapi tantangan dan ujian. Jangan bersedih, jangan berkeluh kesah. Karena ratapan tak pernah membuat kehidupan berhenti (Ali Imran: 139).

Ya, pada kamus para pemenang, tidak akan ditemukan kata menyerah apalagi berputus asa. Mereka punya motto, pemenang tak pernah menyerah dan orang yang menyerah tak pernah menang !

Selasa, 26 November 2013

Hati yang Santun

hati

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah  telah menjadi teman yang sangat setia." (QS Fushshilat [41]: 34)

ISLAM CHANNEL -- Pada suatu malam khalifah Umar bin Abdul Aziz melakukan ronda di kawasan Damaskus. Ia ditemani seorang polisi. Keduanya masuk sebuah masjid yang kebetulan lampunya padam. Kondisi masjid itu gelap gulita. 

Tak disangka sang khalifah mendapati seseorang sedang tidur di dalamnya. Orang yang tidur itu terbangun dan berkata kepada Umar: "Apakah engkau itu gila?" "Tidak, saya tidak gila," jawab khalifah. 

Polisi  yang mengawal sang khalifah sempat tersinggung atas ucapan tidak sopan itu. Ia bermaksud memukulnya, tapi dicegah oleh khalifah. "Jangan kau pukul dia. Dia cuma bertanya: "Apakah kamu gila? dan sudah saya jawab: tidak". 

Sebagai Amirul Mukminin, saya sama sekali tidak merasa dihina atau dilecehkan. "Engkau jangan mudah marah, mungkin dia bertanya begitu karena belum sepenuhnya sadar. Dan boleh jadi kedatangan kita mengganggu tidurnya," nasehat Umar kepada polisi.

Kisah unik tersebut memberi pesan moral kepada kita bahwa berhati dan bersikap santun, tidak mudah emosi, dan mampu membawakan diri dalam berbagai situasi merupakan kunci kedamaian sosial.

Sebab emosi yang tidak terkendali hanya akan membawa kericuhan, pertengkaran, ketidak-harmonisan dalam bermasyarakat.

Kesantunan (al-hilm) dalam bersikap dan berperilaku dapat mengantarkan kita kepada persahabatan yang sejati. Hati yang santun tidak hanya dapat meredam permusuhan, dan mengalahkan nafsu amarah yang diprovokasi oleh setan, juga dapat mencerdaskan emosi dan tidak mudah menyakiti hati orang lain sehingga membuatnya mudah bergaul, beradaptasi, dan bermasyarakat secara empati dan baik hati.

Muslim yang berhati santun pasti tidak mudah marah dan meluapkan emosi tanpa pengendalian diri. Nabi Muhammad SAW adalah figur berhati santun yang patut diteladani.  

Beliau pernah dilempari kotoran setiap kali melewati rumah seorang Yahudi, tetapi beliau tidak balas dendam dan sakit hati. Pada kali yang keempat lewat di depan rumahnya, beliau justeru merasa heran, kenapa orang yang biasa melemparinya dengan kotoran busuk itu tidak mengulangi lagi perbuatannya. 

Setelah diselidiki, ternyata orang Yahudi itu sakit. Beliau malah merespon positif dengan mendatangi rumahnya untuk menjenguk dan mendoakan kesembuhan baginya.

Melihat perlakuan Nabi SAW yang luar biasa santun dan murah hati seperti itu, si Yahudi itu malu hati dan sempat menduga kedatangannya untuk membalas dendam.

Sesampai di rumahnya, beliau ternyata memberi senyum ramah kepadanya sembari menanyakan sakitnya sekaligus mendoakannya agar segera sembuh dan pulih seperti sedia kala.

Ia kemudian meminta maaf kepada beliau. "Sungguh engkau adalah orang yang sangat berhati mulia, santun, dan pemaaf. Engkau tidak menaruh dendam sedikit pun kapadaku, padahal aku telah menyakiti hatimu. Agama yang membuatmu berhati santun dan pemaaf itu pastilah agama yang benar dan sesuai dengan fitrah manusia," tutur Yahudi itu kepada beliau. Akhirnya, orang Yahudi itu pun masuk Islam.

Sungguh indah hati yang santun itu, karena hanya akan melahirkan kata-kata, sikap, dan perbuatan yang santun pula.

Begitulah dahulu Nabi SAW berdakwah dengan kesantunan hati, sehingga  orang Yahudi yang sangat keras permusuhannya terhadap orang-orang  beriman (QS Al-Maidah [5]: 82) itu pun mengakui kemuliaan dan keluhuran moralitas Islam yang diteladankan Nabi SAW.

Dari hati yang santun seperti itulah, Islam sebagai rahmat bagi semesta raya dapat diwujudkan dalam kehidupan kita yang semakin hari semakin gersang dari kesantunan hati. Semoga! Wallahu a'lam bish Shawab.

Senin, 25 November 2013

Belajar Merasakan

Al_Quran islam channel

ISLAM CHANNEL -- Terkisah dari Ibnu Arabi dalam Futuhat al-Makkiyah. Di satu pagi, seorang santri menemui gurunya dalam keadaan pucat pasi. “Wahai Tuan Guru, semalam aku mengkhatamkan Alquran dalam shalat malamku.

Sang Guru tersenyum. “Bagus Nak. Nanti tolong hadirkan bayangan diriku di hadapanmu saat kau baca Al-quran itu. Rasakanlah seolah-olah aku sedang menyimak apa yang engkau baca.”

Esok harinya, sang murid datang dan melapor pada gurunya. “Tuan Guru,”  katanya, “Semalam aku hanya sanggup menyelesaikan separuh dari Al-quran itu.”

Engkau sungguh telah berbuat baik,” ujar sang guru sembari menepuk pundaknya.

Nanti malam lakukan lagi dan kali ini hadirkan wajah para sahabat Nabi yang telah mendengar Al-quran itu langsung dari Rasulullah. Bayangkanlah baik-baik bahwa mereka sedang mendengarkan dan memeriksa bacaanmu.”

Pagi-pagi buta, sang murid kembali menghadap dan mengadu. “Duh Guru,” keluhnya, “Semalam bahkan hanya sepertiga Al-quran yang dapat aku lafalkan.

Alhamdulillah, engkau telah berbuat baik,” kata sang guru mengelus kepala si santri.

Nanti malam bacalah Al-quran dengan lebih baik lagi, sebab yang akan hadir di hadapanmu untuk menyimak adalah Rasulullah SAW sendiri. Orang yang kepadanya Al-quran diturunkan.''

Seusai shalat Subuh, sang guru bertanya, “Bagaimana shalatmu semalam?” “Aku hanya mampu membaca satu juz, Guru,” kata si santri sambil mendesah, “Itu pun dengan susah payah.”

Masya Allah,” kata sang guru sambil memeluk sang santri dengan bangga. “Teruskan kebaikan itu, Nak. Dan nanti malam tolong hadirkan Allah di hadapanmu. Sungguh, selama ini pun sebenarnya Allah-lah  yang mendengarkan bacaanmu. Allah yang telah menurunkan Al-quran. Dia selalu hadir di dekatmu. Jikapun engkau tidak melihat-Nya, Dia pasti melihatmu. Ingat baik-baik. Hadirkan Allah, karena Dia mendengar dan menjawab apa yang engkau baca.”

Keesokan harinya, ternyata santri itu jatuh sakit. Sang Guru pun datang menjenguknya.
Ada apa denganmu?” tanya Sang Guru.

Sang santri berlinang air mata. “Demi Allah, wahai Tuan Guru,” ujarnya, “Semalam aku tak mampu menyelesaikan bacaanku. Hatta, Cuma Al-Fatihah pun tak sanggup aku menamatkannya. Ketika sampai pada ayat, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin” lidahku kelu. Aku merasa aku sedang berdusta. Di mulut aku ucapkan “Kepada-Mu ya Allah, aku menyembah” tapi jauh di dalam hatiku aku tahu, aku sering memperhatikan yang selain Dia. Ayat itu tak mau keluar dari lisanku. Aku menangis dan tetap saja tak mampu menyelesaikannya.”

Nak...,” kata sang guru sambil berlinang air mata, “Mulai hari ini engkaulah guruku. Dan sungguh aku ini muridmu. Ajarkan padaku apa yang telah kau peroleh. Sebab meski aku membimbingmu di jalan itu, aku sendiri belum pernah sampai pada puncak pemahaman yang kau dapat di hari ini. 

Ikhwah, para pecinta sejati tentu akan saling membimbing diri untuk bersama mendekat kepada Rabbnya. Mereka tidak akan canggung berbagi peran. Untuk belajar merasakan. Wallahu A’lam.

Sumber : Ustad Arifin IlhamRepublika.co.id

Selasa, 12 November 2013

Pahala Wakaf untuk Orang yang Sudah Meninggal

wakaf dalam islam
Pertanyaan :
Orang tua kami sudah meninggal, kami merasa belum mampu membalas kebaikan dan jasa mereka. Sekarang ini kami diberikan sedikit kelebihan rejeki, kami ingin berwakaf untuk orang tua kami, apakah pahala wakaf kami ini dapat sampai kepada orang tua kami?

Jawaban : 
Amal sholeh yang dilakukan oleh orang yang masih hidup untuk diberikan oleh orang yang sudah sudah wafat Insya Allah diterima oleh ALLAH SWT, terdapat beberapa hadits yang meriwayatkan hal tersebut, diantaranya adalah hadits di bawah ini :

Dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia ketika ia tidak ada di tempat, lalu ia datang kepada Nabi Muhammad SAW untuk bertanya "Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang saya tidak ada di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat baginya"?

Rasul SAW menjawab : "Ya",

Saad berkata : "Saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya". (HR.Bukhari)

Pahala itu adalah hak orang yang beramal. Jika ia menghadiahkan kepada orang tuanya atau saudaranya yang muslim, maka hal itu tidak ada halangan sebagaimana tidak dilarang menghadiahkan harta untuk orang lain di waktu hidupnya dan membebaskan utang setelah wafatnya.

Demikianlah di dalam Islam, Allah memberikan banyak peluang untuk berbuat baik/berbakti kepada orang tua atau saudara muslim lainnya walaupun mereka sudah meninggal dunia, Insya Allah mereka akan merasakan nikmatnya pahala dari Allah karena amal sholeh kita. Amin.

Sumber : Republika.co.id

Minggu, 27 Oktober 2013

Permata Dunia

Permata Dunia

Diantara kenikmatan adalah keindahan. Dan permata dapat dijadikan simbol keindahan yang tertinggi. Maka dalam hal ini wanita diibaratkan sebagai permata.

ISLAM CHANNEL -- Hadis di atas mengisyaratkan bahwa pada dasarnya setiap wanita memiliki potensi yang luar biasa. Setiap wanita memiliki kesempatan untuk menjadi permata dunia. Namun, banyak yang salah kaprah menginterpretasikan maksud dari “Permata Dunia” yang sesungguhnya.  Tidak dapat disangkal bahwa wanita adalah keindahan. Mungkin mayoritas menyadari akan keindahan itu.

Namun hanya minoritas yang mengerti bagaimana menjaga keindahan yang dimiliki wanita. Sehingga, banyak permata yang tercuri keindahan dan kemuliaannya, tetapi si pemilik tidak merasa. Bahkan  cenderung sengaja mengeksploitasi keindahannya. (Menemukan Permata yang Hilang : 6).

Hadis di atas menjelaskan bagaimana wanita dapat menduduki posisi yang terhormat “sebaik-baik perhiasan dunia”. Yaitu dengan menjadi wanita salehah. Kemudian muncul pertanyaan bagaimana menjadi wanita salehah?

Marilah merenungi QS. An-Nisa : 34. ”Maka wanita salehah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena itu Allah telah memelihara mereka.”

Dari Ayat tersebut terdapat dua unsur menjadi wanita salehah. Pertama adalah taat kepada Allah. Implementasi daripada ketaatan kepada Allah dapat terlihat dari sejauh mana seorang wanita menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Wanita yang salehah akan berusaha memahami apa yang diperintahkan Allah kemudian menjalankannya. Sekaligus memahami apa yang menjadi larangan Allah dan kemudian menjauhinya.

Kedua adalah memelihara diri. Dalam beberapa kajian kitab tafsir, memelihara diri ini terkait dengan memelihara atau menjaga kehormatan diri dan harta suami ketika suami tidak ada. Dalam konteks wanita sebagai “permata” yang memiliki potensi untuk memancarkan keindahan, maka memelihara diri dalam ayat ini dapat dimaksudkan memelihara dan menjaga kemuliaan “permata” yang terdapat pada diri wanita. Menjaga pergaulan dan menutup aurat sebagaimana yang telah diperintahkan Allah dalam QS. An-Nur : 31. Sehingga permata yang dimiliki wanita betul terjaga keindahannya.

Sebuah permata yang sangat mahal harganya tidak akan begitu saja diletakkan di etalase. Seperti aksesoris perhiasan yang memang sengaja dipajang. Sehingga siapapun yang ingin melihat dapat melihat sesukanya. Siapapun bisa memilih, menyentuh lalu kemudian mengembalikannya lagi jika ternyata tidak sesuai dengan selera.

Namun, permata yang sangat mahal akan diletakkan pada brankas besi yang terjaga dengan sistem keamanan kelas tinggi. Tidak sembarang orang dapat melihat. Apalagi menyentuhnya. Hanya orang yang memiliki kemampuan finansial dan kesiapan yang prima sajalah yang dapat memiliki permata tersebut.

Begitulah perumpamaan sederhana dari wanita yang tidak menghormati dan menghargai “keindahannya” dengan wanita yang sadar akan keindahan yang ada dalam dirinya, lalu kemudian betul-betul menjaganya sehingga menjelma menjadi permata dunia.

Semoga para wanita dapat menjadi permata dunia yang bersinar mahal lagi menyejukkan. Bukan permata yang hilang sinarnya. Dan para laki-laki dapat bijaksana memilih wanita salehah sebagai pendampingnya, sehingga dia mendapatkan sebaik-baik kenikmatan dunia ini. Permata dunia.

Senin, 14 Oktober 2013

Kemengertian Allah

kemengertian Allah

Diwajibkan atasmu jihad dan jihad itu berat bagimu. Bisa jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu lebih baik bagimu. Bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS al-Baqarah: 216).

ISLAM CHANNEL -- Manusia sering merasa mengerti seutuhnya diri mereka dan mengetahui kebutuhan hidupnya sehingga akal dan perasaan mereka jadi tolak ukur untuk memenuhi kepentingannya itu.

Apa yang dianggap baik oleh akal dan perasaan, itulah yang terbaik. Lalu, apa yang dianggap buruk maka itulah pilihan buruk baginya.

Sesungguhnya, Islam tidak mengajarkan demikian. Standar baik dan buruk itu bukan saja otoritas akal dan perasaan. Positif dan negatif atau baik buruknya sesuatu itu sepenuhnya urusan Allah.

Akal dan perasaan tidak bisa jadi hakim satu-satunya. Sebab, wahyulah yang akan menuntun akal dan perasaan itu menilai baik atau tidaknya suatu perbuatan agar kehidupan tidak merugi.

Misalnya, seperti kasus di atas. Jihad sebagai sebuah kewajiban terhadap agama memang perintah yang sangat berat. Di dalam jihad (perang), ada mobilisasi massa dan pengumpulan dana besar.

Jihad membuat seseorang berpisah dengan keluarga dan daerah asal. Akibat jihad, anggota tubuh mengalami luka, teramputasi, bahkan nyawa melayang.

Namun, di balik seruan itu dan berkat amaliah jihad, negeri terbebas dari kezaliman.  Harta dan harga diri manusia terjaga. Belum lagi pahala yang besar di akhirat, bahkan bagi yang wafat digelari syuhada.

Banyak hal dalam perintah agama yang tidak sesuai dengan selera manusia. Ibadah-ibadah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas keimanan sudah banyak ditinggalkan manusia.

Jangankan berjihad, shalat atau puasa saja terasa berat bagi sebagian orang. Perkara ibadah sudah dianggap memberatkan. Manusia lebih suka bersantai-santai memuaskan selera hidup dan berlepas diri dari segala aturan yang membelenggu kebebasannya.

Segala sesuatu yang diperintahkan Allah pasti memiliki maslahat besar di dalamnya. Adapun segala sesuatu yang dilarang Allah pasti mengandung mudarat yang berbahaya. Maslahat atau mudarat itu berefek bagi jasmani atau rohani, bahkan bisa pada keduanya sekaligus.


Allah SWT mengatur segala sesuatu ini dengan ilmu-Nya. Ilmu Allah itu tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Namun, Kemengertian dan Kemahatahuan Allah itu di atas segala sesuatu.

Allah SWT itu lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya melebihi pengetahuan hamba itu terhadap dirinya sendiri.

Muadz bin Jabal RA berkata, “Jika seorang Mukmin diuji dengan sakit, dikatakan kepada malaikat sebelah kiri, 'Angkat penamu!' Dikatakan pula kepada malaikat sebelah kanan, 'Tulislah untuk hamba-Ku sebaik amal yang dia kerjakan saat sehatnya.'”

Allah telah mencukupi kita dengan berbagai macam hal dalam hidup ini. Dia memberi melebihi yang kita minta. Dia mencukupi di luar kebutuhan kita. Dia memuluskan langkah-langkah kita.


Dia menutupi kekurangan-kekurangan kita rapat-rapat. Bahkan, Dia mengampuni dosa-dosa kita meskipun dengan amal kita yang sedikit.

Yang Allah minta hanyalah agar kita pandai bersyukur. Syukuri segala keadaan dan gunakan segala fasilitas dari Allah di jalan yang diridhaiNya.

Demikianlah banyak hikmah positif di balik setiap kondisi kita. Kemengertian Allah atas hamba-Nya tidak bisa dimungkiri.

Seorang hamba hanya perlu bersyukur pada keadaannya dan berpikir positif (husnudzan) pada Allah. Kondisi di mana kita berada saat ini menunjukkan itulah yang terbaik bagi kita menurut ilmu Allah.



Sumber : Republika.co.id

Jumat, 11 Oktober 2013

Merenungi Makna Sakit

merenungi makna sakit

ISLAM CHANNEL -- Sakit, sebagaimana juga setiap ujian, bukan menguji ketangguhan dan kemampuan. Sebab sakit Allah beri sudah sesuai dengan takaran dan daya tahannya.

Ia sejatinya menguji kemauan untuk memberi makna. Maka bagi dia yang mampu memberi makna terbaik bagi sakit, insya Allah kemuliaannya diangkat dan membuat malaikat yang selalu sehat takjub.

Sakit adalah jalan kenabian Ayub yang menyejarah. Kesabarannya yang lebih dari batas (disebut dalam sebuah hadits 18 tahun menderita penyakit aneh) diabadikan jadi teladan semesta. Dan atas kenyataan sejarah tersebut, hari ini cobalah bercermin kepadanya. 

Hari ini pula kita bisa bercermin kepada sosok-sosok mulia yang pernah juga sakit. Sakit, yang di ujung penggal kehidupan mereka yang ditemukan adalah kemuliaan serta terus bertambah derajat kemuliaanya di mata Allah SWT.

Imam As-Syafi’i wasir sebab banyak duduk menelaah ilmu; Imam Malik lumpuh tangannya dizhalimi penguasa; Nabi tercinta kita pun pernah sakit oleh racun paha kambing di Khaibar yang menyelusup melalui celah gigi yang patah di perang Uhud. Bukankah setelah akhirnya sakit, semuanya semakin mulia di mata Allah bahkan juga di mata sejarah manusia. 

Sakit itu zikrullah. Mereka yang menderitanya akan lebih sering dan syahdu menyebut Asma Allah dibanding ketika dalam sehatnya.

Sakit itu istighfar. Dosa-dosa akan mudah teringat, jika datang sakit. Sehingga lisan terbimbing untuk mohon ampun. 

Sakit itu tauhid. Bukankah saat sedang hebat rasa sakit, kalimat thoyyibat yang akan terus digetar?

Sakit itu muhasabah. Dia yang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal kembali. 

Sakit itu jihad. Dia yang sakit tak boleh menyerah kalah; diwajibkan terus berikhtiar, berjuang demi kesembuhannya.

Bahkan sakit itu ilmu. Bukankah ketika sakit, dia akan memeriksa, berkonsultasi dan pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya ada ilmu untuk tidak mudah kena sakit. 

Sakit itu nasihat. Yang sakit mengingatkan si sehat untuk jaga diri. Yang sehat hibur si sakit agar mau bersabar. Allah cinta dan sayang keduanya.

Sakit itu silaturrahim. Saat jenguk, bukankah keluarga yang jarang datang akhirnya datang membesuk, penuh senyum dan rindu mesra? Karena itu pula sakit adalah perekat ukhuwah. 

Sakit itu gugur dosa. Barang haram tercelup di tubuh dilarutkan di dunia, anggota badan yang sakit dinyerikan dan dicuci-Nya.

Sakit itu mustajab doa. Imam As-Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta didoakan oleh mereka. 

Sakit itu salah satu keadaan yang menyulitkan syaitan; diajak maksiat tak mampu-tak mau; dosa lalu malah disesali kemudian diampuni.

Sakit itu membuat sedikit tertawa dan banyak menangis; satu sikap keinsyafan yang disukai Nabi dan para makhluk langit. 

Sakit meningkatkan kualitas ibadah; rukuk-sujud lebih khusyuk, tasbih-istighfar lebih sering, tahiyyat-doa jadi lebih lama.

Sakit itu memperbaiki akhlak; kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan tawadhu.

Dan pada akhirnya sakit membawa kita untuk selalu ingat mati. Mengingat mati dan bersiap amal untuk menyambutnya, adalah pendongkrak derajat ketaqwaan. Karena itu mulailah belajar untuk tetap tersenyum dengan sakit. Wallahu A’lam. 

7 Amalan Jariah yang Pahalanya Terus Mengalir

7 Amalan Jariah yang Pahalanya Terus Mengalir

ISLAM CHANNEL --  Amal Jariyah adalah sebutan bagi amalan yang terus mengalir pahalanya, walaupun orang yang melakukan amalan tersebut sudah wafat. Amalan tersebut terus memproduksi pahala yang terus mengalir kepadanya.

Hadis tentang amal jariyah yang populer dari Abu Hurairah menerangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Apabila anak Adam (manusia) wafat, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu sedekah jariah, ilmu yang berman­faat, dan anak saleh yang mendoakannya" (HR. Muslim).

Selain dari ketiga jenis perbuatan di atas, ada lagi beberapa macam perbuatan yang tergolong dalam amal jariah.

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya diantara amal kebaikan yang mendatangkan pahala setelah orang yang melakukannya wafat ialah ilmu yang disebar­luaskannya, anak saleh yang ditinggalkannya, mushaf (kitab-kitab keagamaan) yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah yang dibangunnya untuk penginapan orang yang sedang dalam perjalanan. sungai yang dialirkannya untuk kepentingan orang banyak, dan harta yang disedekahkannya” (HR. Ibnu Majah).

Di dalam hadis ini disebut 7 Amalan Jariah yang Pahalanya Terus Mengalir sebagai berikut :   

1. Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, baik melalui pendidikan formal maupun non formal, seperti diskusi, ceramah, dakwah, dan sebagainya. Termasuk dalam kategori ini adalah me­nulis buku yang berguna dan mempublikasikannya. 

2. Mendidik anak menjadi anak yang saleh. Anak yang saleh akan selalu berbuat kebaikan di dunia. Menurut keterangan hadis ini, kebaikan yang diperbuat oleh anak saleh pahalanya sampai kepada orang tua yang mendidiknya yang telah wafat tanpa mengurangi nilai/pahala yang diterima oleh anak tadi. 

3. Mewariskan mushaf (buku agama) kepada orang-orang yang dapat memanfaatkannya untuk kebaikan diri dan masyarakatnya. 

4. Membangun Masjid. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi SAW, ”Barangsiapa yang membangun sebuah masjid karena Allah walau sekecil apa pun, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Orang yang membangun masjid tersebut akan menerima pahala seperti pahala orang yang beribadah di mas­jid itu. 

5. Membangun rumah atau pondokan bagi orang-orang yang bepergian untuk kebaikan. Setiap orang yang memanfaatkannya, baik untuk istirahat sebentar maupun untuk bermalam dan kegunaan lain yang bukan untuk maksiat, akan mengalirkan pahala kepada orang yang membangunnya. 

6. Mengalirkan air secara baik dan bersih ke tempat-tempat orang yang membutuhkannya atau menggali sumur di tempat yang sering dilalui atau didiami orang banyak. Setelah orang yang mengalirkan air itu wafat dan air itu tetap mengalir serta terpelihara dari kecemaran dan dimanfaatkan orang yang hidup maka ia mendapat pahala yang terus mengalir.

Semakin banyak orang yang memanfaat­kannya semakin banyak ia menerima pahala di akhirat.

Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa membangun sebuah sumur lalu diminum oleh jin atau burung yang kehausan, maka Allah akan mem­berinya pahala kelak di hari kiamat.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Majah). 

7. Menyedekahkan sebagian harta. Sedekah yang diberikan secara ikhlas akan mendatangkan pahala yang berlipat ganda.

Sumber : Ensiklopedi Hukum Islam -- Republika.co.id